Saya Memilih Merajut Manusia, Bukan Sekadar Membangun Komunitas

Oleh: Denni Meilizon
(Ketua Forum TBM Pasaman Barat)

Semakin lama saya berkecimpung di dunia komunitas, semakin saya menyadari satu hal: membangun organisasi ternyata jauh lebih mudah daripada membangun hubungan antarmanusia.

Pengalaman membangun hubungan antarmanusia ini barangkali perlu saya bagikan melalui tulisan ini.

Saya telah bertemu dengan banyak komunitas yang memiliki visi besar, program yang menarik, dan sumber daya yang tidak sedikit. Saya juga menyaksikan lahirnya berbagai forum kolaborasi yang diawali dengan semangat tinggi. Namun, tidak sedikit di antaranya yang perlahan meredup. Program berhenti, komunikasi terputus, bahkan hubungan yang semula hangat berubah menjadi sekadar formalitas.

Dulu saya mengira persoalannya terletak pada kurangnya dana, lemahnya manajemen, atau minimnya dukungan pemerintah. Namun, semakin banyak pengalaman yang saya jalani, semakin saya yakin bahwa akar persoalannya bukan di sana.

Yang sering kali gagal kita bangun itu adalah hubungan antarmanusia.

Saya kemudian sampai pada sebuah keyakinan bahwa yang harus lebih dahulu saya rajut bukanlah komunitasnya, melainkan manusianya. Sebab komunitas hanyalah wadah. Wadah bisa berganti nama, berganti pengurus, bahkan suatu hari bisa saja berhenti beraktivitas. Namun orang-orang yang pernah berada di dalamnya akan tetap hidup, tetap berkarya, dan tetap membawa nilai yang mereka yakini.

Karena itulah saya tidak lagi terlalu tertarik bertanya, “Anda dari komunitas mana?” Saya lebih ingin mengetahui, “Nilai apa yang sedang Anda perjuangkan?”
Bagi saya, kesamaan nilai jauh lebih penting daripada kesamaan organisasi.

Saya percaya seseorang yang menjunjung integritas, memiliki semangat gotong royong, dan ingin memberi manfaat kepada masyarakat akan lebih mudah diajak bekerja sama, meskipun berasal dari organisasi yang berbeda. Sebaliknya, jika nilai yang dianut berbeda, berada dalam organisasi yang sama pun tidak menjamin lahirnya kolaborasi yang sehat.

Pengalaman itu saya rasakan berulang kali. Saya pernah bekerja bersama orang-orang yang berasal dari latar belakang yang sangat beragam—pegiat literasi, seniman, guru, tokoh masyarakat, jurnalis, pemuda, hingga aparatur pemerintahan. Kami tidak selalu berasal dari organisasi yang sama. Bahkan sering kali kami membawa identitas masing-masing. Namun, selama kami memiliki tujuan yang sama dan saling menghormati, perbedaan itu justru menjadi kekuatan.
Dari sanalah saya belajar bahwa kolaborasi bukan tentang menyeragamkan identitas. Kolaborasi adalah menyatukan arah.

Selain kesamaan nilai, saya juga melihat pentingnya membangun sense of belonging atau rasa memiliki terhadap gerakan bersama. Banyak orang begitu bangga terhadap komunitasnya sendiri, tetapi belum tentu merasa menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar. Akibatnya, keberhasilan komunitas lain dianggap sebagai keberhasilan “mereka”, bukan keberhasilan “kita”.

Cara pandang seperti ini perlahan membangun sekat-sekat yang sebenarnya tidak perlu.

Saya justru ingin melihat setiap komunitas merasa bahwa keberhasilan satu pihak adalah energi bagi semua. Ketika sebuah taman baca berkembang, saya berharap komunitas literasi lain ikut merasa bangga. Ketika kelompok seni berhasil menghidupkan ruang budaya, saya berharap komunitas pendidikan ikut merayakannya. Ketika organisasi kepemudaan melahirkan inovasi, saya berharap organisasi lain melihatnya sebagai inspirasi, bukan ancaman.

Saya percaya rasa memiliki tidak bisa dipaksa melalui aturan. Ia tumbuh melalui pengalaman bersama. Duduk dalam satu lingkaran diskusi, bekerja menyelesaikan masalah, saling membantu ketika menghadapi kesulitan, dan saling mengapresiasi ketika berhasil. Semua pengalaman itu perlahan membangun ikatan yang jauh lebih kuat daripada sekadar kartu anggota atau surat keputusan kepengurusan.

Di atas semua itu, saya menempatkan kepercayaan sebagai modal sosial yang paling berharga.

Saya semakin yakin bahwa banyak pekerjaan besar dapat diselesaikan ketika orang saling percaya. Sebaliknya, pekerjaan sekecil apa pun akan terasa berat jika diwarnai kecurigaan.

Kepercayaan tidak lahir dari pidato yang indah ataupun slogan yang menarik. Ia lahir dari konsistensi. Dari kesediaan menepati janji. Dari keberanian bersikap jujur. Dari kerendahan hati untuk mengakui kesalahan. Dari kebiasaan memberi tanpa selalu menghitung keuntungan pribadi.

Saya selalu percaya bahwa orang mungkin lupa siapa ketua sebuah organisasi pada lima atau sepuluh tahun mendatang. Mereka mungkin lupa siapa yang menjadi koordinator sebuah kegiatan. Namun mereka tidak akan mudah lupa kepada orang yang pernah memperlakukan mereka dengan tulus, memberi kepercayaan, dan berjalan bersama tanpa pamrih.

Karena itu, ketika saya membangun jejaring, saya tidak lagi terlalu sibuk menghitung berapa banyak komunitas yang berhasil diajak bergabung. Saya lebih memilih bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak orang yang benar-benar saling percaya? Berapa banyak orang yang merasa memiliki gerakan ini? Berapa banyak orang yang tetap mau berjalan bersama meskipun tidak ada proyek, anggaran, atau kepentingan sesaat?
Bagi saya, di situlah ukuran sebenarnya dari sebuah gerakan.

Saya ingin membangun sebuah ekosistem yang tidak bergantung pada satu tokoh, tidak bergantung pada satu organisasi, dan tidak bergantung pada satu periode kepengurusan. Saya ingin membangun jejaring yang mampu bertahan karena dipersatukan oleh nilai, dipererat oleh rasa memiliki, dan dipelihara oleh kepercayaan.

Saya percaya perubahan sosial yang berumur panjang tidak pernah dibangun di atas fondasi struktur semata. Ia dibangun di atas hubungan antarmanusia yang sehat. Organisasi hanyalah alat. Program hanyalah sarana. Jabatan hanyalah amanah yang datang dan pergi.

Yang akan tetap tinggal adalah karakter, nilai, dan jejak hubungan yang kita bangun.

Karena itu, jika hari ini saya ditanya apa yang paling ingin saya rajut, jawaban saya sederhana: “saya ingin merajut manusia. Sebab ketika manusianya telah terhubung oleh nilai, rasa memiliki, dan kepercayaan, komunitas akan menemukan jalannya sendiri untuk tumbuh, berkolaborasi, dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat”.

Roemahbuku, 29 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *